Prologue in two parts / The pulse of the archive

Laman ini memuat beberapa terjemahan kutipan penting dari pembacaan teks Ann Laura Stoler berjudul “Along the Archival Grains”. Buku ini menjadi salah satu teks utama di dalam reading group Kunci Cultural Studies Center x Heterotropics project. Terjemahan berikut disusun berdasarkan sub-sub tertentu setiap bab yang mewakili gagasan utama Stoler mengenai kebiasaan epistemik dalam menyusun kerangka berpikir pengarsipan kolonial. Alih-alih berbicara tentang arsip sebagai benda, Stoler cenderung menawarkan pertanyaan bagaimana hubungan antara hubungan arsip kolonial sebagai objek dengan penciptaanya. Ia menitikberatkan pada pembedahan ‘struktur bahasa’ inheren sebuah arsip yang disandingkan dengan pembuatan kebijakan kolonial. Ia menyasar celah, retakan, atau ketidakstabilan bahasa di dalamnya. Dengan kata lain, kebiasaan epistemik kolonial tidak mengacu pada keutuhan sebuah arsip yang mengunci, tetapi mengacu pada ruang di antara arsip dan penciptaannya yang bersifat aktif, terbuka, bersifat proses dan antisipatif.

Bab 1-2

Kata kunci: Arsip kolonial, kebiasaan epistemik, kisi-kisi pemahaman, butiran etnografis

Bab 1

Sebuah torehan kolonial

“Ia (sejarah minor) lebih kepada mengenali sebuah ruang di dalam keterampilan pemerintahan, sebuah diakritik sejenis yang menegaskan kebiasaan-kebiasaan epistemik dalam gerak dan kehati-hatian, sebuah kata kerja bersyarat atas gaya bahasa mereka yang bersifat waspada dan keras.”(hal.7)

Bab 2

Detak Arsip

“Melalui “wujud yang mengarsip” saya mengacu pada beberapa hal: gaya tulisan, pengulangan, seni persuasi, ketegangan afektif yang membentuk respon ”rasional”, kategori-kategori tingkat kerahasiaan, dan tidak terkecuali, jenis dokumentasi.”(hal.20)

Aturan yang mengarsip

“Dalam konteks-konteks ini, menyatunya tanda yang banal dan politis menyiratkan kecemasan mengenai pembentukan subjek, mengenai ruang psikis kekaisaran, tentang apa yang terjadi tanpa dikatakan, tentang nalar yang membuat penyatuan-penyatuan logis ini.”(hal.25)

Etnografi dalam Arsip

“Di sini saya memperlakukan arsip-arsip tidak sebagai brankas kekuatan negara tetapi sebagai pergerakan yang resah di dalam medan gayanya, sebagai penyusunan yang gelisah dan pengaturan kembali orang-orang dan kepercayaan yang kepadanya mereka tertambat, sebagai ruang-ruang di mana perasaan dan arah afektif melalui abstraksi rasionalitas politis yang tampak.” (hal.33)

Nalar Kolonial dan Kerangka Epistemiknya.

“Pembentukan kebiasaan melunaskan aturan-aturan kolonial dan nalarnya dan adalah bagian dari pembentukannya. Ia adalah “kisi-kisi pemahaman” yang membuat aturan tertentu menjadi pantas, jelas dan familiar-atau janggal dan aneh. Perhatian saya di sini adalah kondisi mengenai pilihan dan kesempatan, mengenai pengajaran dan inovasi.” (hal.38)

“Bentukan epistemik” membekali kita dengan apa-apa yang mungkin, yang dapat dipikirkan, dengan konstelasi konsep yang dipertanyakan, apa yang orang-orang asumsikan untuk mengetahui dunia-dunia mereka dan bagaimana mereka tidak sepakat terhadapnya.”(hal.39)

Ketegangan Afektif

“Menjadi sebuah negara yang taksonomis berarti lebih daripada menentukan kategori-kategori; ia berarti menghasilkan dan memanfaatkan sentimen (sentimen kolonial) yang membuat pembedaan-pembedaan tersebut masuk akal dan membuatnya bekerja. Nalar dapat menjadi “renungan publik atas kebenaran”, tetapi ia terikat pada sensisibilitas, sebagaimana Kant menegaskan dan dalam ketegangan afektif.” (hal.40)

Melacak peralihan mengarsip

“Seseorang dapat memperdebatkan bahwa “arsip” bagi para sejarawan dan “Arsip” bagi teoritikus budaya telah menjadi objek-objek analitik yang sepenuhnya berbeda: yang pertama, sekumpulan dokumen-dokumen dan institusi-institusi yang menaungi mereka, yang terakhir, sebuah pembacaan metaforis bagi bahan koleksi-koleksi terpilih dan harapan akan terlibatnya pencarian yang gigih atas yang utama, yang bersifat asal-usul dan yang tak tersentuh.” (hal.45)

Watak (butir-butir) Arsip Kolonial

“…Sebuah cara untuk menanggapi apa yang De Certeau maksud dengan “operasi historiografis” dengan membedakan kuasa mengarsip yang menetap di masa-masa penciptaan dari praktik perakitan, perolehan kembali, dan legitimasi disipliner.” (hal.48)

Cap kekaisaran

“Pembacaan di sepanjang watak mengarsip memancing kepekaan kita lebih terhadap butiran-butiran arsip daripada tekstur yang utuh, terhadap permukaan kasar yang melumuri warnanya dan memberikan wujudnya. Bekerja di pinggiran watak ialah bukan untuk mengikuti arah yang tanpa gesekan melainkan memasuki sebuah medan gaya dan kehendak untuk berkuasa, untuk mengikuti baik bunyi dan perasaan di dalamnya dan tandingan mereka dan daya yang saling timbal balik.”(hal.52)

Hierarchies of Credibility

 

Keywords: rumor, personal-political, sustain, credibility, stories-fiction

Berikut adalah sebuah korespondensi teks antara Franz Carl Valck seorang ahli hukum kolonial yang bertugas sebagai Asisten residen pemerintah Belanda. Ia bertugas melakukan pengamatan segala aktivitas perkebunan di tahun 1876. Ia mengamati pertikaian antara pemilik perkebunan Eropa dengan orang-orang Gayo yang melakukan penyerangan terhadap mereka. Teks ini berangkat dari ketidakjelasan atas rumor sebagai sumber alasan penyerangan tersebut. Di pihak kolonial penyerangan ini dimaknai sebagai pembalasan dendam orang-orang Gayo yang tidak mendapatkan gaji yang setara dan tidak terkait dengan Perang Aceh. Di sisi lain, ketidakpastian “rumor” teks berikut berfungsi sebagai kekangan sekaligus konfirmasi teks kolonial yang memisahkan penyerangan tersebut dengan ekonomi kolonial di Deli. Logika investigasi Valck mengganggu kestabilan fiksi teks kolonial yang juga berangkat dari informasi informan yang bersifat “rumor”. Keragu-raguan atas yang personal menyiratkan narasi yang politis:

” Saya rasa tidak seorangpun dengan jejak akal sehat, setelah dikabarkan di atas, akan percaya bahwa pengaruh Aceh dibalik penyerangan-penyerangan tersebut dan setiap orang harus sepakat bahwa ia dihasilkan dari pertikaian personal. Hanya pihak-pihak yang terkait di perkebunan yang diseranglah akan merasa berbeda, pastinya tidak menyenangkan untuk menjatuhkan tuduhan pada diri mereka atau bawahan mereka. Kebenaran akan hal tersebut nantinya akan menjadi jelas”. (hal. 216)

Articles of Faith

Catatan berikut disarikan dari bab 4, Image of the Tropics, Susie Protschky ‘

Keywords: contrast, hindu-buddhist, Bali, landscape, Aceh war, Islam.

WalterSpies_Landscape

Walter Spies, Landscape (1930’s)

“Pada lukisan pemandangan Spies, hutan yang lebat dan bergunung-gunung  terlihat mendahului orang yang melihat lukisan, dengan spektakuler disoroti oleh cahaya matahari keemasan. Pemandangan ini disandingkan dengan lanskap yang lebih dekat, lebih gelap yang menempatkan gunung-gunung yang membara menjadi sebuah relief kuat atas waktu yang mendalam. Tentu saja, pelukis-pelukis Romantik terkadang menggunakan teknik serupa untuk membedakan antara masa lalu dan masa kini, tetapi biasanya lanskap antik dalam citra-citra tersebut disusun menjadi latar belakang , bukan latar depan (Wood 2001:127). Dengan kontras, lokasi gunung Spies, sebuah landmark Hindu, di bagian depan lukisan yang menegaskan nilai masa lalu yang pre-monumental pada konsepsi seniman mengenai lanskap Bali yang sakral. Citra sebuah kawasan candi menjadi siluet melawan langit malam yang dipantulkan pada sebuah kolam yang tenang di sepanjang bagian atas gambar. Lanskap-lanskap Hindu mengenai kekinian, lalu, jauh pada lukisan Spies, sedangkan lanskap-lanskap kuno pre-Hindu lama menjadi latar depan”(Hal.117)

bab_5_image_of_the_tropics_1[1]

Naturalizing Conquest

Catatan berikut berasal dari bab 3, Image of the Tropics, Susie Protschky

‘Karya-karya penghidupan yang dirayakan oleh lukisan kolonial Belanda berada di luar wilayah produksi (secara menonjol, perkebunan agrikultur) di mana dampak lingkungan dan sosial atas kolonial sangat jelas. Maka ia adalah kealpaan atas transformasi-kekaburan akan intervensi orang-orang Eropa, dan kesinambungan yang tampak dari moda tradisional penggunaan lahan di antara kaum tani Indonesia-yang menggambarkan pedesaan kolonial pada lukisan Indies’ (hal.98)

New_Doc_2017-03-11_2[1]

Commission and Their Storied Edges

Catatan bab 5. Commission and Their Storied Edges, Along the Archival Grain, Ann Laura Stoler

Pada bab ini Stoler menjelaskan peran-peran penting pembuatan laporan komisi Pauperism (kemiskinan) terhadap Inlandsche Kinderen. Laporan ini dibuat pada tahun 1872 dan 1901. Laporan tersebut ditujukan untuk mengatur ketentuan status ras orang-orang keturunan campuran. Kecenderungan laporan ini mengatakan bahwa mereka adalah kelompok kaum miskin. Di samping kelemahan pengamatan atas populasi mereka (hanya 39 dari 6500 populasi pada laporan 1872), laporan komisi 1901 datang bersamaan dengan kebijakan politis Etis hindia Belanda sebagai pertimbangan moral dan hutang finansial atas Indonesia. Berikut adalah sebuah petikan dari komentar A.S Carpentier Alting terhadap keberadaan Inlandsche Kinderen. Ia adalah seorang pastor protestan dan anggota tinggi masyarakat seni dan budaya sekaligus juru bicara bagi banyak anggota dewan komisi. Di satu sisi, narasi ini menghapus nilai keeropaan populasi keturunan campuran. Tetapi, di sisi lain, ia menegaskan pembedaan mereka yang lebih dekat dengan masyarakat Indonesia yang terjajah:

“Seseorang tidak lagi bisa berbicara tentang penguasa dan yang dikuasai pada saat ini, ketika semua orang adalah sama. Tidak bisa diklaim, bahwa seorang Eropa memiliki kebutuhan yang lebih besar dari seorang pribumi. Tentu saja hal tersebut tidak bisa dikatakan oleh orang-orang Eropa tersebut, yang keturunan dan karakternya berada sangat dekat dengan pribumi” (hal.156)

New_Doc_2017-03-11_1[1]

Developing Historical Negatives

Petikan berikut menjelaskan bagaimana imajinasi kolonial tentang sekolah bagi murid Indische Buurt atau keturunan campuran di masa kolonial belanda dari sekitar tahun 1850an. Sekolah ini dimulai dengan pembentukan Ambachtschool (sekolah kriya) hingga pernyataan kegagalan evolusinya di tahun 1929 yang mengacu pada masyarakat koloni agrikultur Metrray. Perubahan paradigma sekolah-sekolah ini memperlihatkan bagaimana kontradiksi selubung tenaga kerja yang di satu sisi, adalah ketidakmungkinan untuk menempatkan keturunan campuran di dalam hak politik kolonialisme Belanda. Dan di sisi lain, meletakkan status mereka di atas posisi yang lebih tinggi dari orang-orang pribumi Indonesia:

“Mimpi-mimpi politisnya berbeda, namun elemen-elemennya tetap sama: untuk membuat mereka menjadi sederhana namun loyalis yang dihormati, dengan klaim-klaim politik yang akan bergantung pada bantahan terus menerus atas hak-hak pribumi, dengan investasi pada hirarki sosial yang akan tetap kuat, tetapi dengan ukuran kewenangan terbatas dalam ukuran legal orang-orang Eropa, bukan status sosial atau politik yang setara” (hal.137)

Bab 4, Along the Archival Grain, Ann Laura Stoler.